gempabumi, venezuela, solidaritasinternasional, evakuasi
CARACAS, KOBUMI | Gempa bumi berkekuatan besar mengguncang wilayah utara dan tengah Venezuela pada Rabu sore waktu setempat. Guncangan beruntun ini merobohkan sejumlah bangunan di ibu kota Caracas dan memicu kepanikan massal, bahkan getarannya terasa hingga ke negara tetangga, Kolombia.
Menurut laporan Survei Geologi AS (USGS), gempa pertama bermagnitudo 7,1 terjadi di kedalaman 13 kilometer dengan pusat gempa berada di sebelah barat kota Valencia. Hanya berselang sekitar satu menit, gempa susulan yang jauh lebih kuat bermagnitudo 7,5 kembali mengguncang. Gempa kedua ini berpusat di dekat kota Morón dan Yumare, wilayah yang menjadi pusat beberapa kilang minyak terbesar di negara tersebut.
Negara-negara didorong untuk segera menurunkan bantuan kepada para korban gempa dahsyat Venezuela. Jumlah korban tewas akibat gempa bumi dahsyat di Venezuela meningkat menjadi 235 orang dan melukai lebih dari 1.500 orang. Sedikitnya 2.927 keluarga juga telah kehilangan rumah mereka akibat gempa hingga Kamis (25/6) malam waktu setempat, kata Menteri Kesehatan Carlos Alvarado.
Baca juga: Koalisi Perlindungan Guru: Kami Bukan Belum Sejahtera, tapi Korban Pemiskinan Struktural
“Hingga pukul 19.00 hari ini, kami telah memberikan bantuan kepada lebih dari 4.300 korban luka. Sebagian besar mengalami luka ringan, tetapi ada juga pasien dengan kondisi sedang hingga berat. Banyak di antaranya memerlukan tindakan operasi,” kata Alvarado dalam siaran televisi pemerintah VTV.
Menteri kesehatan itu mengatakan sekitar 235 orang dibawa ke rumah sakit dalam keadaan sudah meninggal dunia atau meninggal sesaat setelah tiba di fasilitas kesehatan. Peristiwa ini terjadi tepat saat warga Venezuela sedang berada di rumah untuk merayakan hari libur nasional memperingati kemenangan militer tahun 1821.
Suasana liburan seketika berubah mencekam saat warga berhamburan menyelamatkan diri dari dalam bangunan yang bergoyang hebat. "Gempa bumi ini sangat mengerikan, bahkan lebih buruk daripada gempa yang terjadi pada tahun 1967," ujar Maria Romero, 80, seorang pensiunan di selatan Caracas yang dievakuasi oleh pihak kepolisian.
Dampak kerusakan parah terlihat jelas di berbagai sudut kota. Video yang terverifikasi menunjukkan beberapa gedung runtuh dan fasad bangunan rusak berat hingga diselimuti debu tebal. Selain kerusakan infrastruktur, jaringan listrik dan koneksi internet di Caracas langsung terputus sesaat setelah gempa terjadi.
Baca juga: Andi Gani Lapor ke Dasco: 55.000 Buruh Pabrik Keramik Kena PHK Imbas Gas Industri Naik
Kerusakan juga dilaporkan terjadi di kota Valencia. "Beberapa dinding di bangunan tempat tinggal saya jebol dan retak-retak. Begitu guncangan berhenti, saya dan suami langsung mengungsi," kata seorang saksi mata. Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, mengonfirmasi bahwa situasi mengkhawatirkan terjadi di lingkungan Altamira, Caracas, di mana banyak rumah dan gedung dilaporkan runtuh. Ia mengimbau masyarakat untuk tetap berada di luar ruangan guna mengantisipasi gempa susulan. Cabello juga mengindikasikan adanya korban luka dalam peristiwa ini.
"Kami memahami bahwa beberapa orang mungkin merasa panik, tetapi kami bertindak sesuai protokol untuk mengaktifkan upaya bantuan dan penyelamatan bagi mereka yang paling membutuhkan," ujar Cabello melalui siaran televisi negara. "Berhati-hatilah terhadap anak-anak dan lansia; saling menelepon dan pastikan tidak ada anggota keluarga yang terluka."
Dalam sebuah pernyataan daring, Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) menyebutkan bahwa "kebutuhan paling mendesak yang diantisipasi" adalah pencarian orang, penyelamatan, serta tempat penampungan darurat, dan layanan kesehatan. Air bersih dan sanitasi, bersama dengan kebutuhan pokok rumah tangga, diperkirakan akan menjadi prioritas dalam beberapa hari ke depan.
Tom Fletcher, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat, menyampaikan dalam informasi terbarunya bahwa sebuah tim gerak cepat sedang dipersiapkan untuk mendukung tim PBB yang sudah ada di Venezuela. Ia menambahkan bahwa bencana ini "berisiko memperparah kerentanan yang sudah ada sebelumnya".
Fletcher mengatakan bahwa delapan juta orang sebenarnya sudah membutuhkan bantuan kemanusiaan di negara tersebut sebelum gempa terjadi, dan ia mendesak adanya "upaya kolektif masif" untuk mendukung penanggulangan yang dipimpin oleh pemerintah. Presiden El Salvador, Nayib Bukele, mengatakan negaranya telah menyiapkan 50 ton peralatan dan logistik, serta 300 anggota tim SAR yang "siap diberangkatkan ke Caracas".
Baca juga: Dua Calon Awak Kapal Laporkan Agen Tenaga Kerja ke Bareskrim Polri
Ekuador juga telah mengatur bantuan untuk segera dikirim ke Venezuela, kata Presiden Daniel Noboa Azin. Sementara itu, Presiden Brasil, Luiz Incio Lula da Silva, mengatakan negaranya akan menilai langkah bantuan yang dapat diambil untuk mendukung "negara saudara" tersebut.
Menteri Luar Negeri Meksiko, Roberto Velasco lvarez, juga menawarkan kepada Venezuela "seluruh solidaritas dan dukungan yang dibutuhkan". Reuters melaporkan sebagian besar infrastruktur minyak Venezuela masih utuh usai gempa. Fasilitas itu sebagian berada di luar wilayah yang terdampak, demikian dikutip CNN.
Salah satu kota yang punya infrastruktur minyak adalah Maracaibo. Namun, sejauh ini belum ada informasi soal korban jiwa. Fasilitas minyak Venezuela lain berada di Orinoco Belt, Paraguana Peninsula, Puerto la Cruz, hingga Moron. Kilang El Palito di Moron dilaporkan tak mengalami kerusakan fisik signifikan, tetapi tetap terdampak karena ancaman pemadaman listrik hingga penghentian operasi.
Reuters juga melaporkan untuk saat ini, perusahaan energi yang beroperasi di Venezuela sedang memantau kondisi karyawan sebelum menilai fasilitas mereka, termasuk ladang minyak, pabrik, dan kilang. Perusahaan minyak Inggris, Shell, yang sedang mengevaluasi pengembangan ladang gas di Venezuela, mengatakan semua karyawan mereka di sana selamat dan tidak mengalami cedera. Namun, pemadaman listrik yang berkepanjangan bisa berdampak ke produksi minyak mentah hingga listrik pulih kembali.
Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia dan mengandalkan ekspor minyak mentah sebagai tulang punggung ekonomi. Namun, sanksi yang dijatuhkan AS bertahun-tahun memporak-porandakan ekonomi negara Amerika Selatan ini.
Penulis: Ramses
Editor: Umi



COMMENTS