Hapuskan PRT Anak dan berikan perlindungan bagi PRT dan keluarganya
![]() |
Direktur ILO yang khusus menangani program global untuk menghapuskan buruh anak, Constance Thomas, mengatakan upaya internasional untuk menghentikan eksploitasi belum berhasil membasmi kejahatan kemanusiaan ini sepenuhnya.
"Kondisi kebanyakan anak-anak Pekerja Rumah Tangga (PRT) tidak hanya merupakan pelanggaran serius terhadap hak anak, tapi tetap menjadi tantangan dalam pencapaian kebanyakan tujuan-tujuan pembangunan internasional dan nasional," katanya.
Hampir tiga perempat anak-anak PRT ini adalah perempuan, 6.5 juta diantaranya berumur antara 5 dan 14 tahun, menurut laporan ILO yang diterbitkan untuk memperingati Hari Anti Pekerja Anak Sedunia setiap tanggal 12 Juni.
ILO mengatakan anak-anak sering dipekerjakan di rumah orang ketiga atau majikan, melaksanakan tugas seperti membersihkan rumah, menyetrika, memasak, berkebun, menimba air, menjaga anak-anak lain dan orang tua.
Rentan terhadap kekerasan fisik, psikologi dan seksual ketika bekerja, anak-anak ini seringkali terisolasi dari keluarga mereka, jarang terlihat di tempat umum, dan menjadi sangat bergantung terhadap majikan mereka.
ILO mengatakan anak-anak ini juga beresiko dipaksa melacurkan diri.
"Kita butuh kerangka hukum yang kuat untuk secara jelas mengidentifikasi, mencegah dan menghapus PRT anak, dan menyediakan kondisi kerja yang layak ketika mereka secara legal sudah cukup umur untuk bekerja," kata Thomas.
Laporan ILO ini juga menegaskan bahwa PRT Anak tidak diakui sebagai suatu bentuk pekerjaan yang manusiawi apalagi buruh anak di banyak negara sudah dihapus karena hubungan kerja menjadi kabur akibat ketamakan para majikan mereka.
ILO mengatakan anak-anak tersebut tidak dianggap sebagai pekerja dan, sementara mereka tinggal dengan keluarga majikan, tidak diperlakukan sebagai anggota keluarga.
PRT Anak ini mewakili sekitar lima persen jumlah anak-anak yang terpaksa bekerja dibawah usia 17 tahun di seluruh dunia, menurut ILO lagi.
Lebih dari 20 juta orang, kebanyakan perempuan muda, dipekerjakan di kawasan Asia Pasifik, lebih dari 3 persen dari jumlah total pekerja yang dibayar.
Puluhan ribu PRT perempuan terpaksa bermigrasi dari negara-negara miskin seperti Indonesia, Filipina dan Srilangka.
Laporan tersebut juga mengatakan bahwa kemiskinan di Asia Selatan menjadi penyebab utama eksploitasi buruh anak dan di banyak tempat, anak-anak terpaksa bekerja di rumah orang kaya untuk membayar hutang keluarga mereka, terjebak dalam perbudakan utang.

COMMENTS