Selamatkan BMI dari ancaman hukuman mati
![]() |
“Sesuai permintaan Siti Aisyah ke KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia), dia tidak menginginkan bertemu keluarganya terlebih dahulu. Tapi dia meminta doa agar proses persidangan berjalan dengan baik,” kata Arrmanatha Christiawan Nasir, juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, saat menjawab pertanyaan media, Kamis, 30 Maret 2017.
Siti Aisyah, warga Serang, Banten, didakwa melakukan pembunuhan dan persekongkolan dalam sidang pertama yang digelar 1 Maret 2017. Bersama seorang perempuan lainnya asal Vietnam, Doan Thi Huong, 29 tahun, Siti didakwa telah menyergap dan mengusapkan cairan beracun ke wajah, Kim Jong-nam, 46 tahun, di Bandara Internasional Kuala Lumpur 2, Malaysia, pada 13 Februari lalu.
Di berbagai kesempatan, Siti mengaku tidak tahu-menahu soal rencana pembunuhan tersebut. Dia menyatakan dirinya mengira sedang mengikuti sebuah acara reality show televisi.
Siti Aisyah menjadi bahan perbincangan serius terkait dengan kasus pembunuhan terhadap kakak tiri Kim Jong-Un, yakni Kim Jong-Nam. Perempuan berusia 25 tahun kelahiran Serang, Banten, ini dituduh terlibat pembunuhan Jong-Nam. Namun Korea Utara membelanya.
Semua bermula dari peristiwa di Bandara Internasional Kuala Lumpur pada 13 Februari lalu. Aisyah dan seorang perempuan berkewarganegaraan Vietnam bernama Doan Thi Huang (28) menyergap Jong-Nam. Tak lama kemudian, Jong-Nam tewas. Dugaannya, Jong-Nam diracun.
Polisi Diraja Malaysia menuduh Aisyah dan Doan mengecapkan cairan beracun ke wajah Jong-Nam. Entah cairan jenis apa itu, masih dalam penyelidikan. Yang jelas, kata Polisi Diraja Malaysia, kedua perempuan ini tahu bahwa cairan yang mereka gunakan adalah racun.
"Kedua tersangka wanita tahu bahwa zat yang mereka bawa adalah racun. Kami tidak tahu zat kimia jenis apa yang digunakan," terang Kepala Polisi Diraja Malaysia Khalid Abu Bakar dalam konferensi pers di markasnya, Jalan Bukit Aman, Tasik Perdana, 50480, Kuala Lumpur, Rabu (22/2/2017).
Khalid juga menjelaskan tanda-tanda bahwa Aisyah dan Doan tahu cairan di tangannya adalah racun. Setelah mengusap wajah Jong-Nam dengan cairan itu, Aisyah dan Doan lalu mencuci tangan.
"Sebagaimana dalam video (CCTV) yang kalian lihat, mereka (dua tersangka wanita) itu mengusap wajah Kim Chol, setelah itu mereka mencuci tangan mereka," terang Khalid dalam konferensi pers, merujuk pada identitas Jong-Nam dalam paspor yang dibawanya. Jong Nam memang mengantongi identitas paspor dengan nama Kim-Chol.
Namun pemerintah Korea Utara membantah tuduhan terhadap Aisyah itu. Korea Utara menuntut Malaysia membebaskan Doan dan seorang pria warga negara Korea Utara Ri Jong-Chol. Nama terakhir memang dicurigai Malaysia terlibat dalam pembunuhan Jong-Nam.
"Mereka (Malaysia, red) seharusnya segera membebaskan wanita-wanita tak bersalah dari Vietnam dan Indonesia, juga (membebaskan) satu warga DPRK, yang ditangkap tanpa alasan," tegas Duta Besar Republik Demokratik Korea untuk Malaysia Kang Chol.
Dubes Kang Chol juga menyebut baik Doan maupun Aisyah telah ditipu. Namun dia tidak menjelaskan lebih lanjut siapa yang menipu mereka. Ditegaskan olehnya, kedua tersangka wanita itu pasti sudah tewas jika membawa racun di tangan mereka.
Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menduga Aisyah sebagai korban penipuan sehingga terseret dalam kasus pembunuhan yang menghebohkan ini. Aisyah telah terjebak dalam 'reality show' yang ternyata merupakan aksi pembunuhan.
"Jadi suatu metode, cara baru. Ini kan mempermainkan ilmulah atau teknologi bahwa racun dengan cara sederhana disemprotkan bisa kena orang. Jadi juga ini ditipu dengan cara seakan-akan permainan media kan. Iya reality show," ujar JK kepada wartawan di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (17/2).
Keponakan Aisyah, Iqbal, bercerita bahwa Aisyah dipekerjakan oleh agensi yang menangani reality show. Tugasnya adalah mengisengi orang-orang di Malaysia. Gajinya Rp 2-3 juta sekali main. Hasilnya ditayangkan di televisi. Namun ada yang aneh, Aisyah tak boleh melihat hasil adegan yang dia mainkan.
"Kata produsernya, ngapain kamu lihat. Kalau kamu lihat, entar sia-sia. Di Jakarta pun pernah syuting waktu itu. Dia pun nggak boleh lihat. Nggak ada dia di TV Indonesia," kata Iqbal kepada detikcom di Kampung Ranca Sumur, Serang, Banten, Jumat (17/2).
Jaksa Agung M Prasetyo memastikan pemerintah mengawal proses sidang Siti Aisyah, yang didakwa terlibat pembunuhan Kim Jong-Nam. Prasetyo meminta otoritas Malaysia tetap memperhatikan hak-hak Aisyah sebagai tersangka.
"Ya yang pasti sekarang sedang kita dampingi dan tentu menggunakan pengacara-pengacara yang ada di sana. Saya juga komunikasi dengan Menlu, mereka juga intensif untuk mengawal proses hukum yang berjalan di Malaysia ini," kata Prasetyo kepada wartawan di gedung Kejagung, Jalan Sultan Hasanudin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (3/3/2017).
Terkait dengan pemenuhan hak-hak Aisyah, Prasetyo mengaku sudah mengontak otoritas Malaysia. Prasetyo juga mengapresiasi upaya perlindungan terhadap Aisyah, salah satunya dengan mengenakan rompi antipeluru seusai sidang perdana pada Rabu (1/3).
Respons Malaysia soal Kabar Intelijen Korut Berbisnis di Negaranya
PBB menyebut sebuah perusahaan perlengkapan militer bernama Glocom berkantor di kawasan 'Little India' di Kuala Lumpur, Malaysia, dan dikelola oleh badan intelijen Korea Utara (Korut). Namun Kepolisian Diraja Malaysia menyebut tidak ada perusahaan dengan nama itu di Malaysia.
"Disebutkan oleh sumber bahwa tidak ada perusahaan bernama Glocom berada di Malaysia," ucap Kepala Polisi Diraja Malaysia Khalid bin Abu Bakar dalam keterangannya, Selasa (28/2/2017).
Meski demikian, Khalid menyebut ada situs glocom.com.my yang terdaftar di Malaysia pada 2009. Situs itu dimiliki oleh suatu instansi bernama International Global System.
"Perusahaan yang bernama mirip, International Golden Services, terdaftar sebagai kontak dalam situs itu. Dua perusahaan itu disebutkan dikontrol oleh pemegang saham dan direktur dari Korea Utara," ujar Khalid.
Khalid menegaskan Kepolisian Diraja Malaysia menaruh perhatian terhadap perusahaan itu dan statusnya adalah sebagai berikut:
- International Global System SDN BHD
Terdaftar pada 2005 dan sifat bisnisnya disebutkan di bidang multimedia serta elektronik dan perdagangan umum. Perusahaan itu dalam proses penghapusan.
Terdaftar pada 2005 dan sifat bisnisnya disebutkan di bidang multimedia serta elektronik dan perdagangan umum. Perusahaan itu dalam proses penghapusan.
- International Golden Services SDN BHD
Terdaftar pada 2012 dan sifat bisnisnya di bidang produk teknologi informasi serta teknologi telekomunikasi, sama seperti penyedia solusi. Perusahaan ini juga dalam proses penghapusan.
Terdaftar pada 2012 dan sifat bisnisnya di bidang produk teknologi informasi serta teknologi telekomunikasi, sama seperti penyedia solusi. Perusahaan ini juga dalam proses penghapusan.
"Polisi Diraja Malaysia selalu memonitor dan mengambil langkah awal untuk memastikan Malaysia tidak digunakan untuk aktivitas apa pun yang merugikan keamanan negara. Kami juga mengambil langkah-langkah yang perlu untuk memenuhi aturan internasional berkaitan dengan sanksi yang terkait," tegas Khalid.
Sebelumnya diberitakan, di tengah upaya penyelidikan Malaysia terkait dengan kasus pembunuhan Kim Jong-Nam, kakak tiri pemimpin Korut Kim Jong-Un, PBB mengungkap adanya perusahaan Glocom tersebut.
Draf laporan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dilihat oleh Reuters, Senin (27/2), menyebut Glocom merupakan sebuah perusahaan cangkang atau front company yang menjual perlengkapan radio perang dari Korut, yang jelas melanggar sanksi PBB.
Front company merupakan sebutan untuk perusahaan yang digunakan untuk melindungi korporasi atau brand induk dari publikasi negatif. Perusahaan semacam ini juga biasa digunakan untuk menutupi aktivitas ilegal. Front company juga disebut sebagai shell company.
Reuters menemukan bahwa Glocom memasang iklan 30 sistem radio untuk militer dan kelompok paramiliter di situsnya di Malaysia yang bernama glocom.com.my. Situs Glocom itu sudah ditutup sejak akhir tahun lalu. Namun di situs itu tercantum alamat perusahaan di Little India, Kuala Lumpur.

COMMENTS