Ratusan Kuli Bangunan Tewas Setiap tahun di Malaysia
![]() |
| Kuli Bangunan Indonesia yang bekerja di Malaysia, Foto: Istimewa |
Indonesia melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Konstruksi menargetkan sebanyak 2.000 Buruh Migran Indonesia (BMI) sektor konstruksi atau Kuli Bangunan yang bekerja di Malaysia, sudah tersertifikasi tahun ini. Saat ini 58 persen tenaga konstruksi asing yang resmi bekerja di Malaysia merupakan BMI.
Pejabat Indonesia bearalasan bahwa walau Para Kuli Bangunan Indonesia yang bekerja di Malaysia sebenarnya sangat terampil dalam bekerja, namun masih belum dibekali kemampuan dan kecakapan khusus, sehingga dari sisi kompetensi dan pendapatan tidak maksimal.
Lalu Indonesia lewat Ditjen Bina Konstruksi bekerjasama dengan perusahaan swasta Malaysia, Construction Industry Development Board (CIDB) untuk proyek sertifikasi para kuli bangunan ini. Kerjasama ini terkait pelatihan khusus untuk Kuli Bangunan Indonesia sebelum mendapat sertifikasi.
"Tujuannya untuk melahirkan Sertifikat Bersama Lembaga Pengembang Jasa Konstruksi (LPJK)-CIDB tahun 2017 hingga 2019," ujar Direktur Jenderal Bina Konstruksi, Yusid Toyib, usai menerima perwakilan CIDB kepada media.
Dari data diketahui bahwa kerjasama yang sudah terjalin sejak rejim SBY ini yakni sejak tahun 2014 baru hanya menghasilkan 388 sertifikat keterampilan khusus sebagai bricklayer, plestering, wooding, dan painting.
Fakta lain menunjukkan selain tingginya biaya penempatan bagi BMI di Malaysia juga tingginya angka kecelakaan kerja yang terjadi terhadap BMI. Dari data KBRI di Kualalumpur Malaysia diketahui setiap tahun ratusan buruh konstruksi atau Kuli Bangunan Indonesia tewas saat bekerja karena lemahnya pengawasan keselamatan bekerja.

COMMENTS