Perjuang Perempuan Menuntut hak atas Suara
![]() |
| Kobumi Nonton Bareng, Foto: Dokumentasi KOBUMI |
Sekitar pukul 13.00 waktu Hong Kong, ada 22 orang anggota Kobumi yang kumpul untuk nonton bareng. Ada Umi, Endang, Sulfiah, Atin, Evant ,Puspa, Ifa/Surip, Nanik, Iyus, Yuni, Rani P, Iis Mundrikah, Winda, Panuti, Musrifah, Nancy, Aprilia, Vina, Nur, Dewi dan Micky.
Walaupun ada sedikit gangguan karena masalah laptop yang kurang dikuasai cara mengoperasionalkannya sehingga waktu pemutaran jadi terkendala waktu lama. Ruangan yang tidak begitu besar juga membuat kami jadi berdesak-desakan. Setelah AC dinyalakan kami semua jadi nyaman untuk menonton.
Ada yang begitu antusias untuk mengetahui alur cerita dari film ini. Saat nonton ada yang jadi emosional dan terlihat mimik marah, tegang, sedih, senang dan kecewa. Nonton Bareng ini pastinya sangat seru bila dibandingkan dengan nonton sendirian. Suasana nobar yang ramai tentu akan lebih menyenangkan, seru sekali dan juga kita bisa belajar langsung dari kejadian di film tersebut, ada yang bertanya dan spontan ada pula yang segera menjawab pertanyaan saat film diputar.
Setelah melihat film Suffragate ini kami jadi paham bahwa perjuangan harus dengan sungguh-sungguh dan harus sepenuh hati. Perjuangan itu membutuhkan pengorbanan yang besar. Perjuangan tidak akan ada akhirnya, sepanjang hidup, siap merasa kehilangan atas apa yang kita miliki sekalipun nyawa taruhannya. Perjuangan harus terus sampai menang walaupun banyak rintangan. Tidak boleh sedikitpun kita mundur, menyurutkan semangat perjuangan.
Film Suffragate ini adalah kisah nyata yang terjadi di Inggris, dimana hak suara hanya dimiliki sepenuhnya oleh laki-laki. Perempuan tidak memiliki hak atas kebebasan atau kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya. Film ini mengambil masa dimana terjadi ketidakadilan dan tidak adanya perlindungan terhadap perempuan.
Saat itu Perempuan harus tunduk pada laki-laki, sama sekali tidak ada pelindungan bagi perempuan sehingga banyak terjadi pelecehan, kekerasan serta diskriminasi yang di lakukan oleh laki-laki. Karena ketidak adilan ini akhirnya perempuan yang sadar mendidrikan sebuah organisasi bernama Suffragate. Organisasi ini dibentuk oleh perempuan-perempuan yang ingin memperjuangkan kesetaraan atas hak pilih suara.
Banyak perempuan-perempuan kemudian direkrut oleh organisasi yang dipimpin oleh seorang dokter perempuan pada suatu klinik kesehatan. Salah satu keberhasilan perjuangan, tiga orang dari mereka berhasil bicara di depan parlemen tentang keadaannya yang sejak berumur 4 tahun harus ikut bekerja di sebuah pabrik kain hingga remaja dan sampai dia dewasa. Bahkan pekerjaan ini terus dilakukan secara turun temurun dengan upah yang murah dan mendapat perlakuan yang sewena-mena dari pemilik pabrik.
Tuntutan yang lain, para aktifis perempuan itu berhasil mengajukan gugatan lewat pengadilan. Berty mewakili perempuan menuntut agar perempuan diberi hak atas suaranya untuk ikut pemilihan. Tuntutan di pengadilan ini dikabulkan oleh hakim tapi sayangnya para juri malah memberikan keputusan yang berbeda dan tidak setuju perempuan punya hak suara dalam pemilihan. Para aktifis para perempuan marah atas keputusan para juri tapi kemudian aparat Polisi malah memukul aktifis perempuan itu secara brutal dan menangkap mereka. Bagi aktifis yang tidak dijemput suaminya maka akan mendekam di penjara sampai masa tahanannya habis.
Di penjara, aktifis perempuan ini mendapat perlakuan yang tidak manusiawi, ditelanjangi dan mendapat cemohon dari masyarakat. Tragisny, suami dari para aktifis perempuan ini malah merasa sangat malu dan marah kepada istrinya dan memintanya untuk menghentikan apa yang sudah dia lakukan.
Begitupun, Berty tetap semangat menjelaskan kepada suaminya apa yang mereka perjuangkan. Saat rapat di kantor mereka, polisi mengrebek pertemuan mereka dan memulangkan para istri itu kerumahnya masing-masing. Suami Berty malah semakin marah bahkan menghukumnya tidak boleh pulang dan melihat anak mereka.
Berty kehilangan keluarga dan diasingkan masyarakat tapi dia terus berjuang tidak mau berhenti walaupun harus kehilangan segala pekerjaan, keluarga bahkan diasingkan secara sosial. Dan ia memilih menjadi pejuang untuk menyelaraskan hak perempuan di kota tersebut.
Berbagai halangan dihadapinya, bahkan sampai mendapat tindakan kekerasan dari aparat, ditangkap dan dipenjarakan. Berty merasakan begitu beratnya perjuangan mereka. Perlawanan para aktifis perempuan ini bahkan samapai melakukan sabotase dengan meledakkan pos-pos surat di pinggir jalan. Bahkan meledakkan gedung pemerintah akibat tuntutan mereka yang tidak pernah didengar oleh para laki-laki.
Gerakan sabotase juga dilakukan saat fastival pacuan kuda yang ditonton oleh raja Inggris. Para aktifis perempuan ini bermaksud untuk mensabotase festival itu dengan melakukan bunuh diri di jalur pacuan. Sabotase ini dilakukan agar raja mendengar dan menyetujui tuntutan mereka. Sang aktifis perempuan itu berani mengorbankan dirinya ditabrak oleh kuda yang sedang melaju kencang di pacuan. Akibatnya, aktifis perempuan yang berani itu tewas ditabrak kuda. Tapi sejak peristiwa itu, kerajaan akhirnya setuju memberikan hak suara kepada perempuan.
Ditulis oleh Atin Susianto

COMMENTS