Aktifitas Belajar Kobumi di Hong Kong
![]() |
Menjelang minggu berakhir, kami kembali 'membudak' di rumah majikan. Selanjutnya kami tak berkuasa atas waktu yang memang tak pernah menjadi milik kita lagi. Itulah rutinitas 'kekejaman hidup' yang terpaksa kami jalani sebagai buruh rumah tangga asing di negeri beton Hong Kong.
Hari itu komunitas kami kedatangan dua orang kawan baru 'mahasiswa' Indonesia yang sedang belajar di Hong Kong. Mereka bergabung dalam sebuah organisasi komunitas budhis di Hong Kong. Walau nasib berbeda tapi mereka ternyata 'Peduli' sama perempuan yang jadi buruh asing di negeri tanah 'Maois' yang disewakan itu. Mereka ingin berbagi dan rindu dengan Indonesia, berbagi banyak cerita tentang kota desa. Mahasiswa-mahasiswa perempuan itu ingin berbagi ilmu dan mengajarkan bahasa Inggris dan ilmu komputer.
“Organisasi kami, 'Masyarakat Budhis' di Hong kong dan kebetulan banyak kawan kawan mahasiswa yang ingin mengamalkan apa yang sudah kami pelajari. Beberapa kali kami sudah berkeliling di Victoria Park namun belum berjumpa dengan organisasi atau kelompok kelompok buruh migran yang bisa kami ajak bicara. Kami googling dan ketemu KOBUMI. Aku kontak mbak Ilalang melalui Facebook dan janjian ketemu hari ini,” kata Micky bercerita senang tentang usahanya mencari tahu KOBUMI.
Kami tentu saja menyambutnya dengan hati gembira bertemu dengan mahasiswa Indonesia. Senasip serasa di negeri asing bersama buruh migran. Semoga ini menjadi awal yang baik karena bertemu dengan kawan dari komunitas yang berbeda.
“Anggota yang ingin ikut belajar bahasa Inggris dan Komputer senang sekali dengan kesempatan untuk meningkatkan skill mereka. Organisasi juga sangat terbantu bila ada orang 'baik' yang rela mengajar. Kami belajar di bawah jalan layang, di alam terbuka tanpa ruangan khusus. Inilah kondisi kami dan kami tidak menganggapnya masalah,” respon Mega, Koodinator Devisi pendidikan KOBUMI kepada para Mahasiswa baik hati itu.
“Saya senang sekali belajar di KOBUMI, belajarnya santai tapi mengena, apa lagi bukan teori saja yang kami pelajari. Kami benar-benar belajar dari hidup kami disini, merasionalkan kontradiksi-kontradiksi nyata. Kami jadi paham bentuk ketidak-adilan yang kami terima, juga diskriminasi yang kami dapati sebagai pekerja asing dari masyarakat disini,” terang Ana, salah satu koodinator devisi mobilisasi dan kampanye.
Kami baru tahu kalau dua orang mahasiswa perempuan itu belajar di Hong Kong City University. Mereka sangat ramah,
Buruh migran disini memang membutuhkan dukungan dari banyak pihak, kehadiran dan kepedulian akan menjadi kekuatan tersendiri bagi kami buruh migran. Kami mau belajar banyak hal dan bangkit dari 'Kebodohan'. Selamat datang kawan-kawan mahasiswa.
Terimakasih untuk Nia dan Micky yang sudah mau berkunjung, kita akan bertemu bulan Oktober dan memulai kerja dan belajar bersama untuk menjadi manusia yang bermartabat.
Hari itu komunitas kami kedatangan dua orang kawan baru 'mahasiswa' Indonesia yang sedang belajar di Hong Kong. Mereka bergabung dalam sebuah organisasi komunitas budhis di Hong Kong. Walau nasib berbeda tapi mereka ternyata 'Peduli' sama perempuan yang jadi buruh asing di negeri tanah 'Maois' yang disewakan itu. Mereka ingin berbagi dan rindu dengan Indonesia, berbagi banyak cerita tentang kota desa. Mahasiswa-mahasiswa perempuan itu ingin berbagi ilmu dan mengajarkan bahasa Inggris dan ilmu komputer.
“Organisasi kami, 'Masyarakat Budhis' di Hong kong dan kebetulan banyak kawan kawan mahasiswa yang ingin mengamalkan apa yang sudah kami pelajari. Beberapa kali kami sudah berkeliling di Victoria Park namun belum berjumpa dengan organisasi atau kelompok kelompok buruh migran yang bisa kami ajak bicara. Kami googling dan ketemu KOBUMI. Aku kontak mbak Ilalang melalui Facebook dan janjian ketemu hari ini,” kata Micky bercerita senang tentang usahanya mencari tahu KOBUMI.
Kami tentu saja menyambutnya dengan hati gembira bertemu dengan mahasiswa Indonesia. Senasip serasa di negeri asing bersama buruh migran. Semoga ini menjadi awal yang baik karena bertemu dengan kawan dari komunitas yang berbeda.
"Kami merasa mendapat kawan yang mau berbagi ilmu untuk belajar bersama. Kami memang sangat membutuhkannya,“ ungkap Imah, sekretaris Komite Regional KOBUMI Asia Pasifik.
“Anggota yang ingin ikut belajar bahasa Inggris dan Komputer senang sekali dengan kesempatan untuk meningkatkan skill mereka. Organisasi juga sangat terbantu bila ada orang 'baik' yang rela mengajar. Kami belajar di bawah jalan layang, di alam terbuka tanpa ruangan khusus. Inilah kondisi kami dan kami tidak menganggapnya masalah,” respon Mega, Koodinator Devisi pendidikan KOBUMI kepada para Mahasiswa baik hati itu.
“Saya senang sekali belajar di KOBUMI, belajarnya santai tapi mengena, apa lagi bukan teori saja yang kami pelajari. Kami benar-benar belajar dari hidup kami disini, merasionalkan kontradiksi-kontradiksi nyata. Kami jadi paham bentuk ketidak-adilan yang kami terima, juga diskriminasi yang kami dapati sebagai pekerja asing dari masyarakat disini,” terang Ana, salah satu koodinator devisi mobilisasi dan kampanye.
Kami baru tahu kalau dua orang mahasiswa perempuan itu belajar di Hong Kong City University. Mereka sangat ramah,
“Kami senang bisa berkenalan dengan KOBUMI dan sambil sarapan bersama kami bisa berbagi tentang apa yang kami tahu. Kami senang membantu kawan-kawan Indonesia yang ada di Hong Kong ini,” Kata Nia, mahasiswa yang berasal dari Makasar.
Buruh migran disini memang membutuhkan dukungan dari banyak pihak, kehadiran dan kepedulian akan menjadi kekuatan tersendiri bagi kami buruh migran. Kami mau belajar banyak hal dan bangkit dari 'Kebodohan'. Selamat datang kawan-kawan mahasiswa.
Terimakasih untuk Nia dan Micky yang sudah mau berkunjung, kita akan bertemu bulan Oktober dan memulai kerja dan belajar bersama untuk menjadi manusia yang bermartabat.
Ditulis: Ilalang Victoria, Koodinator KR KOBUMI Aspak
Causway Bay, 170916

COMMENTS