Sastra Migran
![]() |
“Mali-mali, beli dua dapat glatis satu, mullah mullah, cantik-cantik seperti yang beli“.
Mendengar logatnya, aku menjadi geli sendiri karena teringat dengan abah O’ong - si juragan tembakau di kampungku yang membuka tokonya di perempatan pasar.
Berjalan memasuki Taman Victoria adalah kebiasaan yang sudah kujalani selama lebih dari 4 kali kontrak kerja. Aku bahkan merasa lebih hapal dari orang Hong Kong disini, bahkan aku hapal setiap sudutnya. Akh.. benar benar kampung halaman kedua yang menjeratku. Tak jauh dari pedagang Tionghoa yang mangkal itu, penguasa di Hong Kong ternyata sudah menyediakan tempat untuk pedagang. Tabiat pedagang kaki lima ternyata sama saja disemua tempat, melabarak "batas" demi sesuap nasi.
Tapi kali ini telingaku merasakan keanehan yang yang belum pernah kualami. Sayup-sayup kudengar suara seorang anak kecil yang sepertinya berkebangsaan Pakistan menawarkan dagangannya dengan bahasa kromo inggil yang pasih,
“Tigang doso setunggal, seket angsal kalih. Monggo mbak’e pinarak pinarak“.
Setelah kudekati aku jadi terbelalak menyaksikan anak kecil itu dikerubuti perempuan-perempuan buruh migran asal Indonesia yang berebut jilbab warna warni yang dijualnnya.
“Hmm.. jeratan konsumtif!” batinku jadi sesak kemudian.
Masuk ke area lapangan, kulihat penjual jamu, penjual bakso, penjual nasi bungkus, penjual baju dan lain-lain makin bertambah jumlahnya. Mereka menawarkan dagangannya dengan gembira, meski mereka tahu dalam ancaman petugas Imigrasi Hong Kong yang setiap saat akan menangkap mereka lalu memenjarakannya dan memulangkannya secara paksa seenaknya udelnya. Begitupun, para pedagang kecil itu seolah sudah punya jurus untuk menghadapi ancaman apapun.
Aku bermain dengan pikiranku dalam diam sejenak,
”Mereka hanya mencari tambahan dari gaji yang makin hari makin tak mencukupi kebutuhan“.
Langkah kupercepat, kakak sepupuku sudah menunggu dari tiga puluh menit yang lalu. Ia sudah mulai tak sabar, maklum hanya lebaran waktunya bisa bersama. Wajahnya masih sederhana, sedikitpun tidak terkontaminasi dengan glamor negri beton.
Ia memasakan lontong sayur menu keluarga setiap kali Eidul Fitri. Hmm.. rasanya tak jauh berbeda dengan masakan emakku. Kami berpelukan, saling bertanya kabar… akh pertanyaanya masih seperti tahun lalu, tak ada yang berubah,
“Kapan pulang? Sudah bangun rumah belum? Kapan mau berhenti bekerja? Kapan beli sawah baru?“
Pertanyaannya ternyata juga tidak berubah seperti tahun lalu, aku sampai hapal mati dan ikut menyebutkan pertanyaannya bersamaan. Akhirnya kami sama-sama tertawa lepas sampai tak terasa menitikkan air mata. Entah karena gembira atau bersedih, enggak tahulah.
“Um, aku sendiri sudah tiga kali lebaran tidak bertemu anak-anakku. Tiga lebaran kemarin setiap bulan gajiku aku kirim kerumah untuk biaya Tya masuk SMP dan kakaknya masuk SMA. Uang yang kukirim sepertinya kok makin tak cukup saja untuk memenuhi kebutuhan anak-anakku di kampung. Berfikir cuti-pun aku masih belum berani. Lha mau cuti duit dari mana wong tiap bulan aja gaji gak nok sisa-ne. Padahal aku gak boros lho Um. Lha kalo liat kau yang tiap libur muteri Hong Kong, aku gak yakin kau bisa pulang“, begitu dia mencerocos gelisah.
Tapi kali ini sepertinya aku tak mau mendengarkannya lebih jauh, aku tak ingin memikirkannya lebih jauh. Ketupat sayur yang dibawanya buru-buru ku lahap walau dengan perasaan getir. Tiga piring kuhabiskan dengan cepat, mungkin karena luapan emosiku yang tak bisa kutahankan.
Waktu berlalu dengan cepat, senja datang, wajah rembulan yang setia menghiburku. Tapi kali ini rembulan itu sepertinya memaksaku tersenyum pahit dengan kisah-kisah pilu yang terus kudengar beriringan. Sebentar gelap, wajah negri beton tetap tak peduli penderitaan kami, tetap hingar bingar belangsatan. Di atas rumput, di tanah berlantai beton, di balik gawang-gawang kawan seperjuangan kami tetap menggelar plastik-plastik untuk berlawan.
Kami tetap bercanda, belajar menari, berdiskusi, bahkan terlentang menatap langit dan selubung awan yang terus bergerak. Mimpi-mimpi kami terus bertaburan, menggantung, entah kapan menjadi kenyataan,
“Yu, bukan kita yang boros, bukan kita yang foya foya… Tapi memang kita dipaksa masuk dalam lingkaran sistem kapitalisme yang memeras tenaga kita sebagai pekerja“.
Sama seperti malam sebelumnya, kutinggalkan taman ini dengan langkah yang gontai, meninggalkan kampung kedua sialan ini yang semakin menjeratku dalam kubangan penderitaan tak berujung.
Aku mencoba menekan tombol hapeku, +628122456XXXX,
“Maaf, nomer yang anda hubungi sedang sibuk”, akh... keresahan ini kurasai sendiri.
Ilalang Victoria
Wonderland, 120803

COMMENTS